Langsung ke konten utama

Postingan

Kuliah Kerja Ngedongeng

Tahun 2022 lalu, saat masa libur akhir semester antara bulan Juni sampai Agustus, aku mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diwajibkan oleh universitas tempatku menimba ilmu. Bersama 20 teman dari berbagai fakultas dan program studi, kami melaksanakan program KKN di desa tempatku tinggal, di padukuhan yang hanya berjarak 5 menit naik motor dari rumahku.  Salah satu program kerjaku, sebagai bagian dari sedikit upaya melestarikan kebudayaan yang sejalan dengan kuliah yang sedang kujalani, adalah mendongeng, niatnya, dalam bahasa Jawa. Namun, setelah melakukan trial  kepada anak-anak usia sekolah dasar, bahkan ada yang dari mereka sama sekali tidak mengerti bahasa Jawa ngoko . Entah karena terbiasa dengan bahasa Indonesia, atau memang belum cukup mengerti apa itu bahasa Jawa karena usia. Kalau dipikir-pikir, memangnya dulu waktu kelas satu SD, apa aku sudah bisa membedakan sedang berbahasa Jawa atau bahasa Indonesia? Sepertinya juga belum, hanya melontarkan apa yang ada...

Menata Pikiran

Pernah nggak, sih, merasa capek dan sedih banget? Rasanya ingin menangis keras-keras meluapkan semua emosi negatifmu lewat bulir air mata yang keluar dari mata indahmu itu? Tapi tiba-tiba entah dari mana, atau mungkin dari lagu yang pernah kamu dengar, kamu mendapat pemikiran, "Apa yang akan berubah kalau aku menangis? Apa bebanku akan menghilang? Apa pekerjaanku akan selesai?" Lalu kemudian, meskipun masih belum bisa menghilangkan perasaan negatif itu, kamu memutuskan untuk menghapus air mata yang bahkan belum sempat mengalir keluar dari kelopak matamu.  Kalau pernah, kita sama.  Memang benar, tangisan tidak akan menyelesaikan apa-apa. Tapi bukan berarti menangis itu salah. Kadang memang kita harus memanfaatkan air mata itu untuk meluapkan emosi yang kita rasakan.  Dan tidak jadi menangis pun juga bukan kesalahan. Itu pilihan.  Kalau kamu sedang dalam fase punya banyak hal yang harus dikerjakan sampai bingung harus memulai dari mana, cobalah menuliskan semuanya....

Tentang Menulis (Babagan Nulis)

Beberapa hari lalu, seorang teman yang mengambil mata kuliah pilihan dengan topik menulis kreatif bertanya mengenai cara mengungkapkan sesuatu dalam bahasa Jawa. Lalu tidak ada satupun teman di grup itu yang bisa menjawab dengan memuaskan, lantas seorang teman itu mengirim pesan yang berbunyi, "Setelah mengerjakan tugas ini aku jadi tersadar bahwa perbendaharaan kataku dalam bahasa Jawa sangat sedikit." Dan, bukannya aku tidak menyadari itu. Namun, baru benar-benar tersadar lagi saat sore ini mengerjakan tugas mata kuliah lain, tentang kepenulisan juga. Topiknya soal membalas surat dari keluarga yang berada di kota lain. Hanya diminta menjelaskan kondisi dan kabar serta meminta doa restu, tapi tiga jam aku berpikir sampai hampir menyerah hanya demi mendapatkan minimal kata yang diminta, yaitu sejumlah lima ratus kata. Berkali-kali juga bertanya pada salah satu teman yang aku anggap cukup pandai, tapi ternyata jawabannya tetap tidak memuaskan.  Pada akhirnya memang selesai dan...