Langsung ke konten utama

Menata Pikiran

Pernah nggak, sih, merasa capek dan sedih banget? Rasanya ingin menangis keras-keras meluapkan semua emosi negatifmu lewat bulir air mata yang keluar dari mata indahmu itu? Tapi tiba-tiba entah dari mana, atau mungkin dari lagu yang pernah kamu dengar, kamu mendapat pemikiran, "Apa yang akan berubah kalau aku menangis? Apa bebanku akan menghilang? Apa pekerjaanku akan selesai?" Lalu kemudian, meskipun masih belum bisa menghilangkan perasaan negatif itu, kamu memutuskan untuk menghapus air mata yang bahkan belum sempat mengalir keluar dari kelopak matamu. 

Kalau pernah, kita sama. 

Memang benar, tangisan tidak akan menyelesaikan apa-apa. Tapi bukan berarti menangis itu salah. Kadang memang kita harus memanfaatkan air mata itu untuk meluapkan emosi yang kita rasakan. 

Dan tidak jadi menangis pun juga bukan kesalahan. Itu pilihan. 

Kalau kamu sedang dalam fase punya banyak hal yang harus dikerjakan sampai bingung harus memulai dari mana, cobalah menuliskan semuanya. 

Acak saja. Apapun yang kamu ingat. 

Kemudian baca dan sortir tulisanmu. Apa-apa saja yang harus kamu kerjakan. Tuliskan batas waktunya. Jangan lupa beri dirimu waktu istirahat. 

Kalau kamu takut membuat kesalahan, itu wajar. Tidak ada manusia yang tidak pernah salah. Memangnya kamu malaikat? Bukan, kan? Lagi pula, malaikat itu bukan sesuatu yang bisa kita bayangkan seenaknya saja. Manusia yang seperti malaikat? Kalimat itu hanyalah hiperbola. Hanya agar kita merasa harus selalu benar. Memang ada sifat-sifat baik di dalam diri kita, tapi aku percaya, sifat-sifat buruk pun juga pasti ada. Mungkin orang yang seperti malaikat itu dilahirkan dengan lebih banyak sifat baik. Tapi, kalau kamu tidak dilahirkan begitu, itu pun bukan masalah. Sifat baik juga bisa tumbuh seperti tunas muda yang segar. 

Tidak apa berbuat kesalahan. Tidak apa tidak sempurna. 

Hal yang penting adalah kamu menyelesaikan apa yang harus kamu kerjakan. Perihal mengusahakan yang terbaik atau tidak, itu pilihanmu. Dan kalaupun kamu berpikir resikonya tidak ada padamu, ingat saja bahwa resiko itu tidak selalu langsung terasa. Dari pada di masa depan kamu menyesali usahamu yang kurang saat ini, bukankah lebih baik berjaga-jaga dan mengusahakan yang terbaik untuk semuanya? Terbaik yang berarti bukan tanpa kesalahan. Terbaik yang berarti kamu dan batasmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kuliah Kerja Ngedongeng

Tahun 2022 lalu, saat masa libur akhir semester antara bulan Juni sampai Agustus, aku mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diwajibkan oleh universitas tempatku menimba ilmu. Bersama 20 teman dari berbagai fakultas dan program studi, kami melaksanakan program KKN di desa tempatku tinggal, di padukuhan yang hanya berjarak 5 menit naik motor dari rumahku.  Salah satu program kerjaku, sebagai bagian dari sedikit upaya melestarikan kebudayaan yang sejalan dengan kuliah yang sedang kujalani, adalah mendongeng, niatnya, dalam bahasa Jawa. Namun, setelah melakukan trial  kepada anak-anak usia sekolah dasar, bahkan ada yang dari mereka sama sekali tidak mengerti bahasa Jawa ngoko . Entah karena terbiasa dengan bahasa Indonesia, atau memang belum cukup mengerti apa itu bahasa Jawa karena usia. Kalau dipikir-pikir, memangnya dulu waktu kelas satu SD, apa aku sudah bisa membedakan sedang berbahasa Jawa atau bahasa Indonesia? Sepertinya juga belum, hanya melontarkan apa yang ada...

Teks dan Terjemahan Dongeng 'Allah' (Dongeng Wewulang Becik Jilid 1, Winter, 1889)

Teks      Ana bocah lanang mursid, nunggal saomah karo wong kang anyêmbah brahala, sarta kêrêp amituturi marang wong iku, têmbunge, Allah iku mung sawiji, kang anitahake langit kalawan bumi. Allah anguningani saparipolahing manusa, lan anyêmbadani panyuwune. Allah kang asipat khayun kawasa angukum lan angganjar marang manusa, apadene atêtulung: lan angrusak. Brahala iki kang ginawe lêmah, ora bisa andêlêng tuwin ngrêrungu, lan ora bisa ambêciki apadene angalani ing manusa. Ananging wong kang nyêmbah brahala mau ora nganggêp ing pitutur nyata mangkono iku.      Anuju sawiji dina, barêng wong kang nyêmbah brahala mênyang sawah, bocah mau anjupuk gêgitik kayu, sarupaning brahala banjur dirêmuk. Mung siji sing gêdhe dhewe ora, sarta tangane dicêkêli gêgitik. Barêng wong kapir mau mulih, andêlêng rusaking brahala, atakon kamoran nêpsu: sapa sing gawe pratingkah mangkono iku. Bocah lanang amangsuli, apa kowe ora ngandêl yèn brahala gêdhe iku kang matèni sadulur-d...