Langsung ke konten utama

Teks dan Terjemahan Dongeng 'Allah' (Dongeng Wewulang Becik Jilid 1, Winter, 1889)

Teks

    Ana bocah lanang mursid, nunggal saomah karo wong kang anyêmbah brahala, sarta kêrêp amituturi marang wong iku, têmbunge, Allah iku mung sawiji, kang anitahake langit kalawan bumi. Allah anguningani saparipolahing manusa, lan anyêmbadani panyuwune. Allah kang asipat khayun kawasa angukum lan angganjar marang manusa, apadene atêtulung: lan angrusak. Brahala iki kang ginawe lêmah, ora bisa andêlêng tuwin ngrêrungu, lan ora bisa ambêciki apadene angalani ing manusa. Ananging wong kang nyêmbah brahala mau ora nganggêp ing pitutur nyata mangkono iku.

    Anuju sawiji dina, barêng wong kang nyêmbah brahala mênyang sawah, bocah mau anjupuk gêgitik kayu, sarupaning brahala banjur dirêmuk. Mung siji sing gêdhe dhewe ora, sarta tangane dicêkêli gêgitik. Barêng wong kapir mau mulih, andêlêng rusaking brahala, atakon kamoran nêpsu: sapa sing gawe pratingkah mangkono iku. Bocah lanang amangsuli, apa kowe ora ngandêl yèn brahala gêdhe iku kang matèni sadulur-dulure. Wong kapir sumaur sêru, ora, aku ora ngandêl, awit salawase durung tau molahake tangane. Kowe bocah mursal amasthi sing gawe, saiki kowe bakal dakpênthungi kongsi mati, minăngka paukumane alamu.

    Bocah lanang anyauri manis. O, aja nêpsu, yèn kowe pracaya, brahalamu ora kawasa agawe pratingkah, kang kêna linakonan ing bocah, kapriye manèh yèn iku Allaha, kang anitahake langit kalawan bumi. Wong kapir anglênggêr, sauwise pinikir-pikir, brahalane banjur dirêmuk, sarta wiwit lagi samana ngabêkti ing Allah kang sanyata.

Êliding dongèng mangkene, rahayu wong kang angèstokake sarta ngabêkti ing Allah, kaya upamane marang bapa.


Terjemahan

    Ada seorang anak laki-laki soleh, hidup serumah dengan orang yang menyembah berhala, serta sering menasihati orang tersebut, katanya, "Allah itu hanya satu, yang menciptakan langit dan bumi. Allah mengetahui segala tingkah laku manusia, dan mengabulkan permintaan mereka. Allah yang bersifat khayun (*hayyun = Yang Maha Hidup) dapat menghukum dan memberi ganjaran kepada manusia, apalagi menolong, dan merusak. Berhala ini yang membuat lemah, tidak bisa melihat dan mendengar, dan tidak bisa memberikan kebaikan dan hanya memberikan keburukan bagi manusia. Namun, orang yang menyembah berhala tersebut tidak menanggapi nasihat tersebut dengan baik. 

    Suatu hari, ketika orang yang menyembah berhala tersebut pergi ke sawah, si anak laki-laki mengambil tongkat kayu, kemudian menghancurkan berhala-berhala yang ada. Hanya satu tidak, berhala yang paling besar, kemudian tangannya dipegangi tongkat kayu. Ketika orang kafir tersebut pulang, melihat berhala yang rusak, bertanya dengan marah, "Siapa yang melakukan semua itu?" Si anak laki-laki kemudian menjawab, "Apa kau tidak percaya bahwa berhala besar itu yang membunuh saudara-saudaranya?" Orang kafir tersebut berseru kencang, "Tidak, aku tidak percaya, karena tangannya tidak pernah bergerak sebelumnya. Pasti kau si anak nakal yang melakukan. Aku akan memukulimu sampai mati sebagai hukuman."

    Anak laki-laki itu menjawab dengan lembut, "Hentikan amarahmu. Jika kau percaya berhalamu tidak sanggup melakukannya, malah menuduh seorang anak, bagaimana dengan Allah, yang menciptakan langit dan bumi." Orang kafir itu termenung, setelah beberapa saat berpikir, berhalanya kemudian dihancurkan, serta kembali menyembah Allah. 

    Amanat dongeng ini, selamatlah orang yang mengesakan dan menyembah Allah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kuliah Kerja Ngedongeng

Tahun 2022 lalu, saat masa libur akhir semester antara bulan Juni sampai Agustus, aku mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diwajibkan oleh universitas tempatku menimba ilmu. Bersama 20 teman dari berbagai fakultas dan program studi, kami melaksanakan program KKN di desa tempatku tinggal, di padukuhan yang hanya berjarak 5 menit naik motor dari rumahku.  Salah satu program kerjaku, sebagai bagian dari sedikit upaya melestarikan kebudayaan yang sejalan dengan kuliah yang sedang kujalani, adalah mendongeng, niatnya, dalam bahasa Jawa. Namun, setelah melakukan trial  kepada anak-anak usia sekolah dasar, bahkan ada yang dari mereka sama sekali tidak mengerti bahasa Jawa ngoko . Entah karena terbiasa dengan bahasa Indonesia, atau memang belum cukup mengerti apa itu bahasa Jawa karena usia. Kalau dipikir-pikir, memangnya dulu waktu kelas satu SD, apa aku sudah bisa membedakan sedang berbahasa Jawa atau bahasa Indonesia? Sepertinya juga belum, hanya melontarkan apa yang ada...

Menata Pikiran

Pernah nggak, sih, merasa capek dan sedih banget? Rasanya ingin menangis keras-keras meluapkan semua emosi negatifmu lewat bulir air mata yang keluar dari mata indahmu itu? Tapi tiba-tiba entah dari mana, atau mungkin dari lagu yang pernah kamu dengar, kamu mendapat pemikiran, "Apa yang akan berubah kalau aku menangis? Apa bebanku akan menghilang? Apa pekerjaanku akan selesai?" Lalu kemudian, meskipun masih belum bisa menghilangkan perasaan negatif itu, kamu memutuskan untuk menghapus air mata yang bahkan belum sempat mengalir keluar dari kelopak matamu.  Kalau pernah, kita sama.  Memang benar, tangisan tidak akan menyelesaikan apa-apa. Tapi bukan berarti menangis itu salah. Kadang memang kita harus memanfaatkan air mata itu untuk meluapkan emosi yang kita rasakan.  Dan tidak jadi menangis pun juga bukan kesalahan. Itu pilihan.  Kalau kamu sedang dalam fase punya banyak hal yang harus dikerjakan sampai bingung harus memulai dari mana, cobalah menuliskan semuanya....